Malaikat Juga Tahu…

Foto: Buku Rectoverso, Dee Lestari (halaman 11)

 

Malam hari, tanggal 14 Mei 2026                                                          

Saya yang harusnya sudah tidur mengingat subuh esok harinya harus mengantar anak ke Jakarta Escape, iseng mengintip Instagram lalu membuka akun Rumah Perubahan, sambil rebahan. Postingan terbarunya, membuat saya terkejut. Ternyata, di lokasi yang sama dan di kisaran waktu yang sama, akan ada shooting podcast Prof. Rhenald Kasali & Dee Lestari, dalam rangka Hari Buku Nasional.

Excited saya segera mendaftar secara online untuk ikut acaranya, lalu mencari buku Dee yang mana yang mau saya minta untuk ditandatangai. Tidur pun diundur 😊

Dari beberapa buku Dee yang saya punya, saya mengambil yang paling berkesan untuk saya.

Buku pertama Dee yang saya punya Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh cetakan pertama di bawah label TruedeeBooks (ditulis tahun 2000). Buku tersebut adalah hadiah dari teman kerja dulu. Jadi selain kenang-kenangan, buku yang kini sudah lusuh itu juga menggugah dan membangkitkan sudut pandang baru tentang dunia tulis menulis, gaya menulis, maupun literasi.

Rectoverso versi hard cover, juga cetakan pertama (2008) ikut saya bawa. Saya menikmati tidak hanya cerita, tetapi lagu-lagunya (dalam CD yang sepaket dengan buku), juga “perkawinan” antara 11 lagu dan 11 ceritanya. Cerita bagus tidak harus selalu panjang, begitulah yang tertanam sekali lagi dalam benak setelah membacanya, juga setelah sebelumnya belajar dari buku Filosofi Kopi.

Singkatnya, kedua buku itu mempunyai makna yang dalam yang susah saya ceritakan. Semacam pertanda tentang semua yang mungkin, yang sebelumnya saya pikir tidak mungkin, bahkan semua yang sebelumnya: tidak ada.

 

Besok di sesi tanya jawab, saya mau nanya apa, ya?

Ah ya… saya mau tanya tentang bagaimana cara agar api semangat (menulis) tetap menyala, karena saya “writer wanna be” yang apinya seringkali gampang ditiup angin karena berbagai peristiwa (baca: alasan), lalu perlu waktu untuk menyala lagi.

Nanya itu saja deh…

 

15 Mei 2026, Breezy Café, Jakarta Escape.

Setelah selesai registrasi anak kami di Self Driving Camp, saya segera melihat lokasi podcast yang akan dimulai sesaat kemudian. Saya dan suami memesan minuman dan makanan lalu mencari tempat duduk. Ada meja kosong yang menghadap stage di mana Dee dan Prof. Rhenald Kasali akan shooting. Tadinya saya ragu untuk duduk di sana. Saya hanya berdua, sementara di meja kosong itu ada dua sofa panjang berhadapan, yang masing-masing bisa muat untuk 2-3 orang. Saya ajak Ibu dari teman anak saya yang juga ikut Self-Driving Camp, untuk bergabung di sofa kami. Ternyata beliau sudah mengambil tempat yang sama besar dengan keluarganya di belakang kasir. Jadilah saya dan suami duduk di tempat yang harusnya bisa untuk 4-6 orang. Nantilah kami persilakan kalau ada orang yang mau bergabung.

Sambil menunggu makanan dan minuman datang, saya duduk dan melihat sekitar. Terkejut, karena ternyata di meja sebelah kami ada Dee yang tengah menunggu acara (dan sepertinya menunggu sarapan).

Saya segera mengeluarkan buku yang sudah saya bawa dan memberanikan diri ke meja sebelah, minta kesediaan Dee menandatangani bukunya. Kalau diingat-ingat, saya hanya bercerita singkat saat membuka buku Supernova yang sudah berjamur itu. Tentu saja, saya minta berfoto bersama 😊

Minta tanda tangan di buku kesayangan dan foto bersama penulisnya 🙂

Rasanya? Antara gugup tapi happy, antara percaya tidak percaya bahwa saya tiba-tiba berada di situasi seperti ini.  Merasa digiring semesta, seperti dapat bonus karena membawa anak ke Jakarta Escape di saat yang tepat. Setelah berterima kasih saya kembali ke meja sebelah, membawa kembali dua buku Dee yang paling berkesan yang telah ditandatangani tadi, bersiap-siap menyimak dan bersiap untuk terinspirasi.

 

Foto sesaat sebelum acara dimulai, dan sebelum saya pindah duduk di sebelah Ibu berbaju ungu 🙂

 

Saat acara dimulai, saya pindah ke bangku depan, meninggalkan suami yang duduk di sofa tadi, agar bisa mendengar lebih jelas. Isinya sudah pasti insightful. Tapi yang paling gong bagi saya adalah saat Dee berbicara tentang api, percaya pada nyala api sendiri, dan bagaimana agar ia tetap menyala**. Itu persis seperti pertanyaan yang saya siapkan semalam. Merinding rasanya, mendapat jawaban panjang bahkan tanpa perlu bertanya. Begitulah saya menikmari hari itu. Baik insight dari Dee, maupun dari Prof. Rhenald Kasali, seperti mengisi bensin di tangki mobil yang hampir habis isinya. Saya bersyukur sekali.

Podcast yang insightful

 

Momen itu buat saya, lebih dari sekadar minta tanda tangan dan bertemu idola. Saya tengah menyambut hikmah dan mengamini takdir. Semesta mencolek saya lagi.

Terima kasih Dee Lestari dan Prof. Rhenald Kasali untuk insightful moment-nya.

Terima kasih juga pada suami si pendukung nomor satu, si penyimak kisah hidupku.

Malaikat juga pasti tahu, perasaan saya penuh. Another synchronicity. Kebetulan yang indah.

Qadarullah…

 

Silakan, disimak podcast-nya di:

https://www.youtube.com/watch?v=DrCP6550aw8

 

** lebih kurang di menit ke 18, ada penjelasan gamblang dari Dee tentang api yang saya maksudkan itu. Semoga “api” saya tidak membakar pun tidak meredup lagi 🙂

 

You may also like