“Memeras” Buku-buku Anak Sampai “Kering”

Disclaimer dulu, Ah!

Tulisan ini, pastinya hanya sekadar berbagi cerita dan kemungkinan besar bukan hal baru. Cerita biasa saja, tetapi siapa tahu bisa diambil manfaatnya. Kalau tidak, skip saja, ya! 😀

 

Ceritanya di bulan-bulan terakhir 2023 yang lalu, saya membuka lagi lemari buku anak saya. Di dalamnya, masih banyak buku-buku yang sudah tidak sesuai lagi dengan usianya. Menyortir buku bacaannya ini, entah sudah keberapa kalinya. Sebagian alasan lambat sortir karena secara periodik kita memang lupa, alasan lainnya memang karena ada ingatan tertentu hingga dia masih merasa sayang dengan beberapa buku kecilnya. Seperti buku bergambar Ayo Belajar 123 ini. Ini salah satu buku generasi pertama yang kami belikan untuknya. Saya berkilas balik bersama anak.

Buku tipis, berwarna dan glossy ini, sudah dimanfaatkan dengan beberapa cara, melebihi tujuan awalnya: untuk memperkenalkan angka dan jumlah benda. Kami masih bisa “bermain” dengan buku ini, bahkan setelah anak sudah paham angka dan konsep jumlah. “Memeras” buku-buku anak saya sampai “kering” ini, pada akhirnya menjadi kegiatan yang diawali dengan keisengan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa buku fisik sekarang ini tidak murah, apalagi yang berwarna. Saya juga tergolong pemburu buku diskonan yang masih mikir sebelum membeli.  Mengingat tingkat literasi di Indonesia yang konon rendah, mungkin buku sama sekali tidak masuk dalam prioritas daftar belanja di beberapa rumah tangga. Selain ketidaktertarikan, mungkin pengaruh harga, atau bisa jadi orang tua merasa fungsinya dianggap terlalu cepat selesai. Misalnya buku abjad. Begitu anak sudah bisa membaca atau menghafal abjad, maka rasanya selesai juga fungsi Si Buku. Itu pernah saya alami juga. Apalagi anak-anak cepat bosan. Tapi, ternyata dalam keisengan, sempat ditemukan beberapa cara untuk memanfaatkan buku ini, dengan cara lain.

 

Kilas Balik “Memeras” Buku: Ayo Belajar 123

Setelah belajar angka (berikut konsep jumlah), ada kesan: habislah fungsi buku ini. Maka kemungkinan yang terjadi adalah buku ini segera diberikan kepada anak lain (disumbangkan atau dioper), dan beli buku baru. Karena saya dan anak senang bermain, iseng kami mainkan game yang sederhana, beberapa waktu kemudian.

  • Saya dan anak masing-masing memikirkan gambar mana yang disukai, lalu dalam hitungan tiga, kami berdua serentak menunjuk gambar pilihan kami masing-masing. Lewat permainan ini, mungkin saja anak belajar membuat pilihan dan preferensi. Ah… tapi terus terang, di balik permainan ini yang saya kejar adalah tawa dan interaksi kami. Tentu pernah juga beberapa kali saya dan dia menunjuk gambar yang sama, dan itu yang membuat kami tertawa, hingga permainan semakin seru.
  • Atau, cara lain: Yang satu memikirkan gambar yang dipilih, yang lain menebak pilihan yang dipikirkan oleh orang pertama itu. Keseruan terjadi saat tebakan benar ataupun salah. Bercengkerama, berinteraksi dan seseruan itu yang paling dikejar, dari mengotak atik fungsi buku tadi.

Nah…beberapa waktu lalu, sebelum akhirnya benar-benar disumbangkan (karena anak sudah kelas 7 SMP), dia secara harfiah, minta kami bernostalgia main sekali lagi dengan buku mengenal angka itu. He he… terharu sekali.

 

“Memeras” Buku: Aku Belajar Memakai Baju

Nah! Buku untuk anak umur 4 tahun+ ini juga bulan Oktober tahun lalu masih ada di raknya. Berbeda dengan buku angka di atas, buku ini ada teks dan ceritanya. Apakah dulu setelah dibaca sekali dua kali (sampai anak saya hafal), lalu selesai begitu saja? Enggak. Setelah itu, kami masih sesekali menggunakan buku itu.

Membaca bergantian perhalaman, atau membaca dialog sesuai peran pilihannya. Tidak harus selalu dia yang jadi anak. Bisa juga dia membaca dialog Ibu. It’s okay, karena sekali lagi yang kami kejar adalah interaksi.

Dengan buku ini juga, kami iseng menghitung kancing baju Deni (karakter di buku ini), jumlah baju di lemarinya, menutup buku dan mengingat warna baju yang dipakai Ibu, atau membahas hal-hal lain yang bisa dilihat di gambar. Itu yang membuat buku ini dan buku-buku masa kecilnya cenderung bertahan  “terlalu lama” di lemari buku kecilnya. Seingat kami buku ini terakhir “dimainkan” saat ia kelas 4 SD (umur 10 tahun), lalu baru terlihat lagi saat hendak disortir he he he…

Sebelum buku ini benar-benar keluar rumah, si anak SMP membuka-buka sebentar dan bergumam, bahwa ia punya ide untuk memasukkan semesta Deni ke dalam semesta tulisan yang pernah  dibuatnya (semacam film-film Marvel yang timeline-nya paralel… ada-ada saja idenya). Terharu juga sih bahwa dia menghargai kenangan kecilnya. Dan hal-hal seperti ini yang kadang mengobati rasa ragu saya, apakah saya sudah cukup “ada” untuknya saat dia kecil? Walau “jejak-jejak” nya menunjukkan kami selalu ada untuknya, tetap saja sebagai Ibu rasanya masih kurang dan ingin mengisi waktu lebih banyak lagi. Eh,… tahu-tahu dia sudah besar.

Tapi, alhamdulillah ia seringkali memperlihatkan umpan balik lewat percakapan dan gesture-nya bahwa saya dan Abunya memang selalu “ada” untuknya. Semoga benar yang saya rasa (pede aja lah, Bu…wkwkwk)

Wah, mudah-mudahan maksud saya menulis ini sampai, ya. Bukan berarti saya sudah benar, tidak ada pula niat menggurui. Saya yakin lebih banyak orang tua lain yang tidak kehabisan ide, bahkan melakukan hal yang lebih besar daripada hanya sekadar “memeras” buku yang sudah ada, seperti yang kami lakukan. He he he… Anak saya pun jauh dari kategori kutu buku (literasinya kini lebih banyak didapat dari sumber-sumber visual, terutama yang bergerak, daripada buku).

Ini sekadar cerita lalu yang teringat, yang mungkin belum dicoba oleh Ibu-ibu yang anaknya masih kecil-kecil. Ternyata value yang didapat bisa lebih dari isi dan harga bukunya sendiri, ketika ia bisa menjadi “wahana” interaksi kami.

Akhirnya, akan datang juga masa ketika buku-buku kecil ini benar-benar kedaluwarsa, tidak bisa “diperas” lagi dan kita memang harus mencari ganti yang sesuai usianya.

.

Lumayan juga kegiatan “memeras” (alias memanfaatkan dengan cara-cara lain) buku-buku anak yang selewat terkesan sederhana dan receh ini, ternyata mengisi memorinya tentang kebersamaan dan interaksi kami. Jadi sambil menyortir, saya dan anak juga sekalian mengingat kembali masa-masa yang rasanya sangat cepat berlalu itu. Benar-benar cepat berlalu…

Alhamdulillah untuk semua yang sudah saya dan anak remaja ini lalui.

Terima kasih buku-buku yang lucu, semoga bisa menyenangkan hati pemilik berikutnya 😊

 

 

Jadi terpancing mengorek kenangan: “permainan” apalagi yang sering saya dan dia mainkan waktu kecilnya dulu? Hmmm…

You may also like