Driver or Passenger?

Karena satu dan lain hal (termasuk bergantian masuk rumah sakit), kami beberapa kali terpaksa menunda mendaftarkan anak kami untuk mengikuti Self Driving Camp di Jakarta Escape bersama Rumah Perubahan, yang sudah kami incar sejak akhir 2025 lalu.

Saat semuanya selaras: ketersediaan dana, kesehatan dan waktu, kesempatan itu kami ambil. Akhirnya kami daftarkan anak kami untuk ikut serta camp di tanggal 15 hingga 17 Mei 2026 lalu.

Kenapa kami sangat tertarik program camp?

Ini bentuk komitmen kami berdua sejak dulu, untuk mendorong anak mengikuti program-program pengayaan diri di luar sekolah, guna menambah teman, pengalaman dan skill baru yang diperlukan untuk pengembangan dirinya.

 Kenapa Self Driving Camp?

Dari judulnya saja, kami merasa tema ini sangat cocok dan dibutuhkan anak kami saat ini. Si anak yang akan memasuki jenjang sekolah menengah atas (SMA), yang semakin dekat dengan kedewasaan dan kemandirian yang lebih nyata. Selain itu keniscayaan atas peran kami, orang tuanya, yang akan semakin minim (dan pada akhirnya lepas total), maka memotivasi dirinya sendiri untuk bergerak ke arah yang ia tuju adalah modal yang sangat dibutuhkan. Bagaimana agar ia punya kemampuan “mengendarai” dirinya ke arah yang dia cita-citakan, tanpa diprogram oleh pihak-pihak di luar dirinya sendiri (termasuk kami, orang tuanya)? Begitulah yang kami lihat, rasakan dan butuhkan dari existing condition.

15 Mei 2026 (Bandung – Jakarta Escape)

Sebelum resmi mendaftar Self Driving Camp, kami bertanya pada anak kami sekiranya ada teman yang mau ikut mendaftar, karena ada paket untuk dua orang. Alhamdulillah, akhirnya salah satu sahabat di sekolahnya bisa ikut.

Di hari H, anak kami dan kawannya berangkat secara terpisah dari Bandung untuk langsung bertemu di Jakarta Escape sesuai waktu yang ditentukan.

Sebelum pukul 07.00 kami sudah tiba di lokasi. Ini adalah kali pertama keluarga kami mengunjungi Jakarta Escape. Tempat milik Prof. Rhenald Kasali penggagas Rumah Perubahan ini luas, rindang dan nyaman. Silakan googling untuk keterangan lebih lengkapnya.

Di Breezy Café, kami ditunggu untuk melakukan registrasi. Beberapa anak terlihat sudah hadir.

Setelah menyimpan barang di kamar, berfoto depan banner, maka anak-anak diajak untuk memulai kegiatan, sementara orang tua dipersilakan kembali ke ruang registrasi untuk mendapatkan gambaran tentang kegiatan selama 3 hari 2 malam.

Setelah menyimak penjelasan dari coach, saya dan suami merasa ikut excited. Ini bakalan seru, dan anak-anak pasti senang sekali. Kegiatan-kegiatannya berupa tantangan-tantangan dengan muatan simulasi kehidupan nyata. Bagaimana anak dan kelompoknya mencari solusi untuk memenuhi satu demi satu tantangan dengan batasan-batasan aturan tertentu dan sumber daya (uang) yang juga dibatasi.

Briefing orang tua ditutup dengan keyakinan bahwa anak kami akan merasa happy dengan kegiatan maupun teman barunya. Sebelum kembali ke Bandung, saya dan suami masih ingin menyaksikan podcast di Breezy Café. Pagi yang cocok untuk ngopi, dan siap menadah inspirasi. Cerita satu ini saya tulis terpisah, karena terlalu kebetulan dan saya yakin semesta berperan di dalamnya.

17 Mei 2026 (Jakarta Escape – Bandung), waktu penjemputan.

Kali ini, kami diharapkan untuk berada di lokasi penjemputan: Andaliman Café pukul 11.00. Lumayan penasaran ingin mendengar cerita anak kami, yang memang selama berada di camp tidak boleh kami hubungi saat berkegiatan, bahkan jarang juga kami hubungi pada jam-jam istirahat sekalipun. Kami yakin, dia menikmati kegiatan dan waktu bersama teman-teman barunya.

Akhirnya, kami bertemu kembali dengan anak kami dan para coaches.

Kami melihat keakraban di antara para peserta yang cukup dalam. Seakan mereka adalah teman sekolahnya sendiri, padahal mereka hanya 3 hari dua malam saja di camp.

Begitu pun saat mereka bersiap untuk pulang, setelah berfoto bersama Prof. Rhenald Kasali. Ada sedikit jeda, menunggu beberapa anak berpamitan satu sama lain. Tidak lupa, saya mengambil pesanan buku Self Driving, yang hampir saja saya beli di sebuah toko online beberapa bulan sebelumnya. Beruntung, karena saya belum sempat checkout, justru saya mendapatkan edisi bertandatangan di tempat penulisnya langsung.

Buku Self Driving, ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali

Di sepanjang perjalanan pulang menuju Bandung, anak kami bercerita detil sekali. Dari kalimat dan ekspresinya, ia sangat puas dan terkesan dengan kegiatan yang baru saja ia lalui. Dari konten, hingga pertemanannya.

Ia bercerita tentang teman-teman barunya, bagaimana ia berbagi ruangan dengan anak-anak lelaki lainnya, bagaimana keseruan meluangkan waktu istirahat bersama kawan-kawannya. Saat sesama peserta bisa mengobrol santai, dan lebih saling mengenal. Begitu menurutnya.

Ia juga bercerita tentang keseruan bersama kelompoknya naik transportasi umum dengan misi-misi yang harus diselesaikan dan budget terbatas yang mengkondisikan mereka untuk berinteraksi dengan orang asing yang mereka temui. Salah satu percakapan yang insightul menurutnya adalah dengan orang asing yang mau memberikan pandangannya tentang literasi keuangan di kalangan anak muda. Lalu, seorang asing yang bertemu di bis Transjakarta juga memberikan kesan dalam bagi mereka. Kata anak saya, tidak hanya berhasil menemukan seseorang yang sedang membaca buku, ternyata ia juga berbagi banyak cerita tentang musik dan film, juga kehidupan dan pekerjaannya di bidang kreatif.

Ceritanya yang detail, mengisi perjalanan kami menuju Bandung. Mendengar pengalamannya, kami seakan ikut langsung berpetualang dengannya. Hati lega karena telah mengusulkan anak untuk mengikuti Self Driving Camp ini. Setidaknya dia bisa mengukur diri: bagaimana posisinya di dalam kelompok? apakah sudah siap menjadi driver di kehidupannya sendiri? Apakah 7 elemen yang diajarkan sudah dia terapkan? Mana saja yang belum?

(Ibu menyimak dan ikut belajar 😊)

Semoga camp ini membawa dampak baik yang nyata bagi semua yang mengikutinya, juga berkah buat para coach-nya.

 

Semua foto dari kegiatan Self Driving Camp, Rumah Perubahan

 

Epilog:

“Aku dibangunin untuk sholat subuh oleh temanku yang non-muslim…”

Kalimat tepatnya bukan seperti itu (karena ia menyebut nama kawannya), namun ini cerita kecil termanis, yang membuat mata saya buram karena terharu. Semoga kita  senantiasa bertemu dengan kebaikan-kebaikan di dunia ini. Doa terbaik untuk kawan baru anak saya itu, juga anak-anak lainnya.

Sukses, untuk semuanya!

 

 

 

You may also like