Satu Dekade, Si Anak Indie

Terima kasih telah sedemikian mandiri dan berani

Yang tertulis lebih terasa dari yang terhitung

Perjalanan kita nyatanya indah dan teringat,

Lebih dari sekadar “sampai di tujuan”

 Pujangga Mumang (2010-2020)

 

Tulisan di atas, adalah gambaran perasaan saya tentangnya. Saya tidak perlu meminta izin, meminta maaf dan merasa malu untuk mengekspresikan perasaan saya terhadapnya. Sama seperti anak yang kita ceritakan pertumbuhannya hari demi hari, tahun demi tahun. Begitulah perasaan saya terhadapnya. Dia, entah bagaimana, membantu saya berkembang.

Di beberapa tulisan, saya telah menyebutkan dan menceritakan perjalanan panjangnya. Namun saya juga seringkali bebal, mengulangnya lagi dan lagi.

Memasuki Bulan Desember 2020, tersadar bahwa 10 tahun yang lalu, saya menjalani sesuatu yang luar biasa.

Awal tahun 2010, cerpen pertama saya dimuat di sebuah majalah wanita. Tidak pernah terbayangkan, tulisan hasil berjuang itu, dimuat juga walau tidak menang. Berjuang? Iya, itulah kali pertama saya menulis sesuatu yang jumlah halamannya mengikuti syarat yang ditentukan. Itu juga kali pertama saya merasakan proses alami mengirim ke media. Memang pernah juga saya mengirim sampel-sampel tulisan saya untuk melamar kerja, dan dipanggil. Namun, cerita pendek yang secara murni saya kirim untuk mengikuti sayembara, dimuat (walau tidak menang), memperoleh honorarium, itu yang pertama.

Pertengahan Tahun 2010, saya melahirkan anak yang dinantikan selama 8 tahun perkawinan. Bahagia teramat sangat? Tentu. Rempong? apalagi. Namun di saat yang sama, proses produksi Pujangga Mumang bergulir. Sehingga dalam beberapa waktu, saya merasa letih secara fisik yang teramat sangat.

Sekitar November-Desember 2010, bayi saya berusia sekitar 6 bulan, sementara Pujangga Mumang memasuki tahap finalisasi. Dari mulai proof print kover, memilih warna pita untuk pembatas buku, stamp proofing  hingga hal remeh-temeh lainnya. It was fun. Sampai akhirnya menjelang akhir Desember, dus-dus itu pun datang. Bau buku-buku baru menyeruak dari dalamnya.

Proof print – 10 November 2010
Pujangga Mumang dan “Abang”nya – 24 Desember 2010

Setelah itu, Pe-eR berikutnya? Distribusi. Disinilah saya merasa sangat, sangat, sangat terbantu oleh adik saya dan teman-temannya, terutama saat suami sedang pergi ke luar kota. Thanks guys… karena kalian, jahitan bekas operasi Caesar di perut aman, dan Pujangga Mumang pun jadi bisa bertemu para “pengadopsi”nya.

Demikianlah kisah Pujangga Mumang, Si Anak Indie yang mandiri dan berani belajar dari pengalaman. Tidak minder, walau berjejer di toko buku tidak sampai dua tahun. Alhamdulillah ada pula mereka yang telah meluangkan hati dan berkenan membaca, membeli, meminjam, hingga mengutip isinya.

Eits tunggu…, perjalanan Pujangga Mumang bukan rangkaian kisah indah belaka. Ini fakta selengkapnya ya… biar kisahnya menjadi utuh. Faktanya:

  • Permintaan mantan pacar, sebagai hadiah ulang tahun 2007, yang baru terealisasikan 3 tahun lebih beberapa bulan kemudian.
  • Saya menyebutnya proyek idealis, crafting yang penuh cinta dan pengorbanan.
  • Buku sangat indie “hardcore”, alias self-finance sepenuhnya, alias sangat menguras tabungan he he he he…
  • Dicetak hardcover 500pcs (silakan dibayangkan biaya produksinya)
  • Biaya produksi bikin kantong bolong, tapi sangat, sangat, sangat memuaskan hati. Kenapa? Karena ia memang dimaksudkan sebagai hadiah dan semua direncanakan dan diawasi sendiri sesuai keinginan (sambil nangis, teteuuup)
  • Oh ya, satu lagi yang membuat saya menyebut Pujangga Mumang adalah craft, juga karena di belakangnya ada dua lembar surat untuk almarhum ayah saya. Bukan tulisan tangan, tetapi pilihan font-nya sejenis handwriting. Sengaja pula saya memesan stempel untuk menandakan bahwa ini hanyalah surat pribadi. Boleh dibaca, boleh tidak. Dan susunan kalimatnya pun nyatanya masih kurang baik dan terlalu sederhana. 🙂

  • Isi buku ini diswasunting seadanya, dan ternyata pengetahuan penulisnya masih cetek banget. Ada beberapa yang masih salah dalam penulisannya.
  • Sempat mampir di toko buku. Lumayan yah… numpang nampang, walau akhirnya yang diretur banyak juga. Ha ha ha…
  • Rencananya mau dibuat edisi baru, karena ingin menambahkan isinya, dan mengedit ulang yang lama. Dan itu rencananya akan dilakukan padaaa… tut…tut…tut…#hilangsinyal wkwkwkwk.

Fakta yang paling mengesankan sampai di highlight di hati:

  • Saya dan suami sering bercanda, bilang bahwa total biaya produksi Pujangga Mumang seharga satu buah tas merek ‘anu’, yang sampai sekarang juga tidak saya punyai. Sementara, Pujangga Mumang secara materi bukanlah proyek sukses, malah jatuhnya rugi. Tetapi di sini saya semakin yakin bahwa ternyata ukuran bahagia dan kepuasan orang berbeda-beda. Saya puas bisa memenuhi permintaan suami, sekaligus memiliki karya.
  • Fakta mengesankan kedua adalah, beberapa kali mendapat kabar bahwa ada beberapa kartu undangan perkawinan yang menyematkan sebuah puisi dari Pujangga Mumang di dalamnya. Lalu, adik saya pun mengutip di kartu undangannya, setahun kemudian. Saya ikut berbahagia, karena artinya puisi tersebut bisa ikut menjadi elemen pelengkap kebahagiaan seseorang. Demikian juga saat seorang kawan menyematkan sebuah puisi dari Pujangga Mumang di buku Yaasin 40 hari meninggal ayahnya. Dan almarhum, saya kenal sejak kami masih duduk di Sekolah Dasar. Saya tersanjung, sedih sekaligus berbahagia, bisa ikut bersama mengenang ayahnya, berikut persahabatan kami. Al-Fatihah untuk beliau.

 

Sepuluh tahun lalu saya belum pandai menulis, bahkan masih belajar hingga kini. Jadi memang pantas jika dikatakan Pujangga Mumang bukanlah sebuah buku yang bagus. Tetapi kepuasan saya saat menulis, merangkai kata, mendiskusikannya tidak bisa dijengkal. Tidak bisa pula digambarkan rasa gembira saat tulisan-tulisan saya bertransformasi dari sebentuk tulisan tangan di buku tulis dan barisan file di laptop, menjadi sebuah buku dengan membuahkan banyak perkenalan. Pada akhirnya, dia jugalah yang membuat saya terus berteman dengan pena dan kertas, hingga kini.

.

Terima kasih banyak wahai agen-agen konspirasi semesta – yang tak bisa disebut satu persatu-  yang ikut dalam proses tumbuh kembang Pujangga Mumang. *tag satu-satu dalam doa*

 

Tiba-tiba ada suara berbisik pelan, dengan isyarat yang familiar

“Yuk…”

Sebelah matanya mengedip, seraya melambaikan lembaran kertasnya.

Dia mengajak saya.

Saya, paham.

Yuk, sampai di mana tadi?

 

Desember, 2020

You may also like