Bereksplorasi Dengan Novelet

“For Sale: Baby Shoes, Never Worn”

Six-words short story dari Ernest Hemingway di atas adalah salah satu karya yang menginspirasi saya. Selain hati bisa sampai menangis membacanya, cerita sesingkat itu memberikan gambaran bagi saya: betapa karya sesungguhnya tidak ada benar atau salah. Cenderung subjektif, mengikuti selera. Maka, saya tapaki pelan-pelan hasrat menulis ini.

Dari remaja sampai tahun 2009: Saya banyak membuat puisi sederhana. Bagi saya, puisi itu nikmat: indah, singkat dan tersirat. Bebas tafsir. Terserah persepsi masing-masing orang yang membacanya.

Akhir tahun 2009, merasa tertantang untuk bikin cerpen. Susahnya setengah mati. Bikin outline, setting, membuat kalimat pembuka, menentukan akhir cerita dan lain-lain. Bahasa sederhananya: mencoba dan memaksa untuk memanjangkan ide cerita biar jadi cerita pendek. Hasilnya: baru sanggup membuat cerpen sepanjang 4 halaman kertas A4.

Tahun 2010: baru bisa bikin cerpen yang panjangnya mengikuti syarat sayembara sebuah majalah wanita. 6-8 halaman, ukuran kertas A4. Tidak menang, namun alhamdulillah cerpennya diterbitkan.

Tahun 2012: mengulang proses yang sama. Cerpen sepanjang 6-8 halaman, diikutsertakan dalam sayembara di majalah wanita yang sama. Tetap tidak menang, tapi hati senang karena cerpennya diterbitkan (juga). Dari titik itu, timbul rasa penasaran yang disertai sangsi tak berkesudahan: sanggup bikin cerita bersambung atau novel nggak?

Batin saya berteriak keras: “Nggak bisaaa!”

Namun pelan-pelan (lagi-lagi, pelan-pelan), saya coba.

2014: Ternyata bisa! Cerita yang lebih pendek dari novel pada umumnya, namun lebih panjang daripada syarat cerita bersambung (standar dari majalah wanita tadi). Mau mencoba lebih panjang dari itu, masih belum sanggup. Lagipula, ada cerita yang kalau saya paksa panjang-panjangkan malah entah kemana-mana.
Selain itu, suami dan beberapa teman (termasuk almarhum adik saya, kalau ia masih ada) pasti bersorak girang karena tidak perlu baca buku yang terlalu tebal. Teringat juga pada sebuah percakapan dengan seorang teman yang bertanya sekaligus berpesan:

“Masih nulis?”
“Masih”
“Bikin buku lagi?”
“Maunya, sih… lagi nyoba bikin kumpulan cerpen atau novel”
“Kabar-kabari ya? Tapi jangan tebel-tebel yah?”

Antara disengaja dan tanpa sengaja, itu pas juga dengan sebuah artikel yang menginspirasi saya. Bahwa ada sebagian orang yang tidak suka membaca tulisan yang terlalu panjang, pun yang terlalu pendek. Kalau pendek terlalu cepat habis, kalau panjang seperti punya utang menyelesaikannya. Untuk memenuhi segmen ini, novel-novel tipis yang habis dibaca sekali duduk, mungkin bisa menjadi solusi. Yang penting minat baca tetap tumbuh. (Dalam kasus saya: begitupun dengan menumbuhkan minat menulis. Kan belum sanggup sampai sepanjang novel hehehe…)

Membaca buku tebal, buat beberapa orang termasuk saya, tidak terlalu menyeramkan. Kalau seru, dilahap sekaligus walau hati berat bila bukunya langsung habis dibaca (saking serunya). Kalau buku tebal itu ternyata nggak seru, dicicil saja bacanya sesuai energi yang ada. Sementara, beberapa orang lainnya seperti suami saya, nyengir aja begitu liat buku tebal, apalagi buku fiksi. Intinya, tergantung selera.

Tahun 2017 ini saya bereksplorasi dengan membuat novel-novel tipis (novelet) yang habis dibaca sekali duduk. Di angkot, di bis, di mobil, di pesawat, di salon, bahkan mungkin kelar dibaca saat mengantri di bank. Sebagian besar kisahnya justru saya tulis beberapa tahun lalu, dan saya edit ulang (bahkan ada yang di edit berulang-ulang hingga beberapa sampai berubah alur, beberapa malah berubah bentuk).

Cerita-ceritanya ringan, sesuai kesanggupan saya saat menulis kisah-kisah tersebut. Namun, walau ringan, tetap ada pesan. Seperti beberapa buku (karya penulis yang namanya belum saya dengar sebelumnya) yang secara acak saya beli. Walau dikemas sederhana, tetap ada makna di dalamnya. Bukankah tulisan itu sebaiknya/seharusnya memang menyampaikan pesan?

Lalu, baguskah buku saya? Selain tergantung selera pembaca, memang sesuai proses belajar saya juga.
Sejujurnya? Karena saya sendiri suka membaca, jadi saya tahu betul tulisan saya masih jauh dari memuaskan, jauh dari mantapnya buku-buku best seller. Saya baru menikmati episode: Dari tidak bisa, menjadi mulai bisa menulis panjang.

Biarlah berjalan pelan-pelan. Tujuan utama menulis itu kan sesederhana: berkarya, berbagi. Bagaimanapun juga, kesempurnaan hanya milik Allah Swt. Tugas saya, ya… belajar terus…
mohon doanya dan terima kasih bagi yang telah ikut mengiringi proses belajar ini…

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published.