Mati Lampu, Mati Gaya (Tapi Hidup Menyala?)

Mati lampu sebagian Jawa dan Bali, hari Minggu tanggal 4 Agustus 2019 kemarin itu, rasanyaaa…. Oh my…

Lebih kurang 11-12 jam tanpa aliran listrik!

Baiklah, proses diawali dengan kesal sekali. Rasanya seperti hidup di hutan, bukan di kota. Rasanya ini negara baru saja bangga sama MRT-nya, tapi kok ya hal mendasar gini aja, tidak bisa diantisipasi. Apa ada yang sabotase? Banyak orang “hampir gila”, pasti. 

Tapi saya harus bisa bikin tenang anak saya. Saya harus lebih tenang darinya, karena mati lampu kali ini akan memakan waktu lama. Kebayang kan, ibu-ibu aja sudah kesal, apalagi anak-anak usia SD gitu. Anak zaman now yang kehidupannya sudah sejalan dengan aliran listrik. He he he…

Saya, Si Ibu tidak mungkin mensterilisasi bocah dari gawai. Ini adalah era mereka. Mau memaki atau pun meratapi masa kecil saya yang ingin saya transfer ke dia, rasanya percuma. Walau dia mau banget, tetap saja susah mau mengajari anak kirim-kiriman surat via pos, kalau anak-anak lain berhubungan via Whatsapp.

Atau ketika matanya terlihat menerawang, saat saya ceritakan bagaimana foto pada zaman kami dulu itu diambil pakai kamera yang diisi rol film. Lalu, menunggu satu dua hari untuk cuci cetak, baru bisa liat hasilnya. Enggak ada cerita mengulang pengambilan gambar, dan harus pasrah enggak punya foto kalau rol filmnya terbakar. Dia membayangkan dan banyak bertanya tentang teknis pengambilan gambar dan proses cuci cetaknya. Yah… saat matanya menerawang itulah, saya merasa berjarak dan sadar bahwa cerita itu bukan miliknya, bukan masanya. Terimalah, Bu…   

Pada akhirnya, saya cuma bisa bersyukur, pernah berada di dua zaman. Dan satu hal lagi, pada akhirnya saya hanya bisa berusaha untuk menyeimbangkan antara kegiatan anak bergawai dan tanpa gawai. Masih mengusahakan interaksi (bermain) dengannya tanpa gawai, dan memperbolehkan bergawai-ria dengan batasan waktu. Akhirnya, menurunkan standar: yang penting seimbang. (Iya, sekarang ini saya lagi brainwash dia dengan kata ‘seimbang’ … LoL!!)

Kebetulan saya sedang bersama adik dan anak-anaknya saat mati lampu  panjang Hari Minggu kemarin itu. Waktu siang, hari masih terang, anak-anak masih bermain.

Kami ajak mereka bermain tebak gerak. Mereka happy. Tidak ada seorang pun dari kami yang terlihat memegang sesuatu di tangan. Kami bergiliran, sibuk membuat gerakan yang harus ditebak oleh yang lainnya.

Kami ajak mereka bermain Papancasilaan (nah ini, susah menggambarkannya. Anak-anak, khususnya orang Bandung pasti tahu. Seperti Hompimpa, tapi yang dikeluarkan adalah jari masing-masing yang jumlahnya bebas, dihitung jarinya sesuai abjad, lalu dulu-duluan menyebutkan kategori yang disepakati. Misal, judul film dari huruf F: Frozen, Fast and Furious, Ferdinand, Forrest Gump dll ).

Mereka masih happy, main Papancasilaan.

Sampai menjelang sore hari tiba, anak mulai minta pulang karena dia sudah menginap di sana, satu malam. Padahal pulang pun, lampu masih mati. Untung Pekerjaan Rumah untuk Hari Senin sudah selesai.

Akhirnya muncul ide untuk menyusul suami yang sedang ada meeting dengan temannnya di mal dekat rumah. Lumayan, anak-anak bisa main untuk menghabiskan  waktu, sekalian makan malam karena di rumah tidak sempat masak nasi berhubung listrik mati. Sekalian nge-charge telepon genggam, tentunya.

Saat menuju mobil, saya melihat tetangga sedang main bola di jalan. Dari anak-anaknya sampai bapaknya (biasanya hanya melihat anak-anak saja). Sampai mal, saya lihat tempat bermain anak yang ada kolam bola, perosotan dan trampoline, penuh semua. Dan semua orang (termasuk saya dan adik saya) di foodcourt melirik bangku yang ada colokannya. Kami dapat sih, bangku yang ada colokan listriknya, tapi tidak berfungsi. ZONK!

Untungnya, saya dapat tiang penyangga dengan colokan. Yes!! Tiang menjadi milik kami, sebelum dioper ke orang lain. (Baiklah, saya jadi ingat tulisan saya berjudul Kisah Tuan Co Lokan beberapa waktu lalu. Boleh dibaca lagi kaka… :D)

Wow! Ini fenomena. Bukan mau sok bijak, tapi hobi saya mengamati sesuatu, otomatis muncul.

Mengingat kata-kata “Ambil hikmahnya” maka peristiwa mati lampu panjang kemarin ada hikmahnya juga, pasti! (walau mati lampunya tetap terasa pahit).

Hikmahnya adalah, saat lampu mati , saya lihat orang-orang malah “hidup”. Ya, seperti kami main tebak gerak, dan main Papancasilaan (kalau ada yang penasaran banget nanti saya jelaskan lebih lanjut secara terpisah :D), juga para tetangga ibu saya (dari yang kecil sampai yang besar)  terlihat main bola di sore hari. Lalu melihat riangnya anak-anak yang ada di tempat bermain di mal.

Rasanya ada yang beda hari itu. Rasanya semua berbagi oksigen, berbagi ruang, bahkan saling bertatap mata (termasuk saling melirik berebut colokan hahahaha!).

Dan satu fenomena lain tentang colokan hari itu  adalah,  cukup banyak orang yang berkumpul di depan boks sewa powerbank. Hari itu adalah hari pertama saya melihat lebih dari dua orang berkerumun depan boks tersebut untuk mendapatkan informasi tentang aplikasi yang baru launching tiga hari sebelumnya, dan para customer service-nya sudah siap siaga melayani dengan informasi. Another blessing in disguise. Moreover: another human interaction.

Sama sekali tidak ingin lagi merasakan mati lampu hingga belasan jam, tapi mungkin sesekali memang dibutuhkan shock therapy seperti itu untuk hidup, agar kita tidak semakin menjadi Zombie karena gawai-gawai dan layar-layar. Mati Lampu, memang mati gaya (pakai banget!). Tapi, kok hidup malah terasa menyala lebih terang, ya?

Apakah kita bisa lebih banyak melihat dan merasakan interaksi nyata seperti itu, saat nanti aliran listrik lancar jaya kembali? Bisa dong, yes… !

 

 

5 Agustus 2019

You may also like